Inklusivitas Digital Ekonomi di Indonesia serta Optimisasi Digital Marketing

Pemanfaatan teknologi komunikasi serta platfrom online diindikasikan telah memberikan dampak yang luar biasa tehadap perkembangan digital ekonomi selama satu dekade terakhir. Digital ekonomi yang bersifat insklusif menciptakan akses yang lebih luas terhadap semua sektor ekonomi termasuk pada terbentuknya lapangan kerja baru. Selan itu digital ekonomi juga mendorong pemenuhan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, sesuai dengan kebutuhan pasar digital. Secara teori digital ekonomi lebih menekankan pada pelaksanaan transaksi digital, hal ini sesuai dengan terminologi yang dikemukakan oleh Don Tapscott dalam buku yang berjudul “The Digital Economy: Promise and Peril in The Age of Networked Intelligence”. Sehingga dappat disimpulkan digital ekonomi merupakan bisnis yang saling terintegrasi antara proses produksi dan manajemen antara mitra dan pelanggan dalam sebuah wadah yang dikenal sebaga platfrom digital. Ada tiga komponen utama yang melingkupi digital ekonomi:

  1. E-business infrastructure adalah infrastruktue ekonomi yang mendukung proses transaksi digital.
  2. Electronic business (E-business) adalah setiap proses yang melingkupi transaksi digital.
  3. Electronic commerce (E-commerce) adalah nilai barang dan jasa yang diperjualbelikan secara online.

Tantangan Digital Ekonomi di Indonesia

Digital Ekonomi telah berkembang cukup pesat di Indonesia, hasil riset menunjukkan dari total jumlah populasi di Indonesia sebesar 268 juta orang, 133% diantaranya merupakan pengguna aktif seluler. Artinya ada sekitar 355,5 juta pengguna seluler yang menandakan kemungkinan beberapa orang memiliki alat seluler lebih dari satu. Selain itu 56% dari total populasi di Indonesia juga merupakan pengguna aktif media sosial, sehingga berpeluang besar meningkatkan transaksi digital di semua media sosial. Inklusivitas digital ekonomi di Indonesia juga telah mempengaruhi banyak sektor, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kontrbusi pasar digital terhadap PDB Indonesia pada tahun 2018 telah meningkat 10% dibandingkkan dengan tahun sebelumnya. Menurut Oxford Economics, setiap peningkatan PDB sebanyak 1% dapat diproyeksikan sebagai penambahan pendapatan sebanyak 640 juta USD serta dapat mendorong terbukanya 10.700 lapangan kerja baru pada tahun 2020. Digital Ekonomi juga memiliki tantangan tersendiri, salah satunya adalah peluang digantikannya tenaga manusia ole mesin atau robot atau yang lebih dikenal sebagai automasi. Ada beberapa sektor yang berpotensi dilakukan automasi diantaranya sektor manufaktur 45%, pertanian 49%, transportasi 64%, serta perdagangan ritel 53%.

Strategi Digital Marketing melalui Media Sosial

Secara teori digital marketing merupakan pemanfaatan internet atau teknologi interaktif dalam menghubungkan perusahaan dan konsumen dalam konsep pemasaran yang diberdayakan secara digital melalui platfrom atau pasar digital. Pasar digital dapat berupa media sosial, website,e-mal, tv digital bisa dalam bentuk blog, feed, podcast, maupun konten-konten yang lan. Implementasi digital merketing lebih cenderung dalam pemanfaatan media elektronik serta media sosial dalam memasarkan, mempromosikan produk bak berpa barang naupun jasa kepada konsumen agar dapat menarik atensi dari konsumen tersebut. Strstegi dalam mengoptikmalkan digital marketing dapat dilakukan dengan menciptakan brand image atau lebih dikenal dengan citra merk. Brand image merupakan citra yang terbentuk melalui pengalaman pribadi konsumen maupun reputasu produk yang dibagikan melalui media sosial yang memuat penilaian oleh konsumen. Brand image dipengaruhi ole beberapa faktor diantaranya kualitas atau mutu produk, fungsi produk, harga, secara citra yang sudah dimiliki produk tersebut. Brand image menjadi pondasi penting bagi perusahaan dalam menciptakan esensi merek dan karakteristik unik yang dimiliki oleh suatu produk dalam pembentukan citra merek.

Salah satu platfrom yang digunakan dalam digital marketing adalah media sosial, karena media sosial menjadi jejaring sosial yang sering digunakan oleh masyarakat. Media sosial memiliki segmentasi fungsional tersendiri yang akan membedakan antara satu jenis medsos dengan medsos lainnya. Contoh media sosial yang digunakan khusus untuk mencari pertemanan, relasi seperti Instagram, Twitter, Facebook. Ada juga media sosial yang digunakan untuk branding personal, umumnya dimanfaatkan untuk mencari atau merekrut pekerjaan seperti Linkedin. Lalu media sosial berbasis pesan seperti g-mal, search engine seperti Google dan Yahoo dan masih banyak lagi. Banyak dari pelaku usaha yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasarannya. Berdasarkan data dari We Are Social (sebuah agensi digital di Amaerika) menyatakan bahwa Youtube (49%) dan Facebook (48%) menjadi media sosial yang paling sering digunakan untuk digital marketing. Kemudian disusul oleh Instagram (39%), Twitter (38%), Whatsapp (38%), dan Google (36%). Sisanya ditempati secara berurutan oleh FB Massenger, Line, Linkedin, BBM, Pinterest, dan Wechat.

Sumber : https://www.kompasiana.com/devinta78138/61ece35380a65a0b4b0a0742/inklusivitas-digital-ekonomi-di-indonesia-serta-optimisasi-digital-marketing-melalui-media-sosial https://www.kompasiana.com/awa97171/61c5824817e4ac4cf4245cf3/strategi-digital-marketing

Leave a Reply